/** * Twenty Twenty-Four functions and definitions * * @link https://developer.wordpress.org/themes/basics/theme-functions/ * * @package Twenty Twenty-Four * @since Twenty Twenty-Four 1.0 */ /** * Register block styles. */ if ( ! function_exists( 'twentytwentyfour_block_styles' ) ) : /** * Register custom block styles * * @since Twenty Twenty-Four 1.0 * @return void */ function twentytwentyfour_block_styles() { register_block_style( 'core/details', array( 'name' => 'arrow-icon-details', 'label' => __( 'Arrow icon', 'twentytwentyfour' ), /* * Styles for the custom Arrow icon style of the Details block */ 'inline_style' => ' .is-style-arrow-icon-details { padding-top: var(--wp--preset--spacing--10); padding-bottom: var(--wp--preset--spacing--10); } .is-style-arrow-icon-details summary { list-style-type: "\2193\00a0\00a0\00a0"; } .is-style-arrow-icon-details[open]>summary { list-style-type: "\2192\00a0\00a0\00a0"; }', ) ); register_block_style( 'core/post-terms', array( 'name' => 'pill', 'label' => __( 'Pill', 'twentytwentyfour' ), /* * Styles variation for post terms * https://github.com/WordPress/gutenberg/issues/24956 */ 'inline_style' => ' .is-style-pill a, .is-style-pill span:not([class], [data-rich-text-placeholder]) { display: inline-block; background-color: var(--wp--preset--color--base-2); padding: 0.375rem 0.875rem; border-radius: var(--wp--preset--spacing--20); } .is-style-pill a:hover { background-color: var(--wp--preset--color--contrast-3); }', ) ); register_block_style( 'core/list', array( 'name' => 'checkmark-list', 'label' => __( 'Checkmark', 'twentytwentyfour' ), /* * Styles for the custom checkmark list block style * https://github.com/WordPress/gutenberg/issues/51480 */ 'inline_style' => ' ul.is-style-checkmark-list { list-style-type: "\2713"; } ul.is-style-checkmark-list li { padding-inline-start: 1ch; }', ) ); register_block_style( 'core/navigation-link', array( 'name' => 'arrow-link', 'label' => __( 'With arrow', 'twentytwentyfour' ), /* * Styles for the custom arrow nav link block style */ 'inline_style' => ' .is-style-arrow-link .wp-block-navigation-item__label:after { content: "\2197"; padding-inline-start: 0.25rem; vertical-align: middle; text-decoration: none; display: inline-block; }', ) ); register_block_style( 'core/heading', array( 'name' => 'asterisk', 'label' => __( 'With asterisk', 'twentytwentyfour' ), 'inline_style' => " .is-style-asterisk:before { content: ''; width: 1.5rem; height: 3rem; background: var(--wp--preset--color--contrast-2, currentColor); clip-path: path('M11.93.684v8.039l5.633-5.633 1.216 1.23-5.66 5.66h8.04v1.737H13.2l5.701 5.701-1.23 1.23-5.742-5.742V21h-1.737v-8.094l-5.77 5.77-1.23-1.217 5.743-5.742H.842V9.98h8.162l-5.701-5.7 1.23-1.231 5.66 5.66V.684h1.737Z'); display: block; } /* Hide the asterisk if the heading has no content, to avoid using empty headings to display the asterisk only, which is an A11Y issue */ .is-style-asterisk:empty:before { content: none; } .is-style-asterisk:-moz-only-whitespace:before { content: none; } .is-style-asterisk.has-text-align-center:before { margin: 0 auto; } .is-style-asterisk.has-text-align-right:before { margin-left: auto; } .rtl .is-style-asterisk.has-text-align-left:before { margin-right: auto; }", ) ); } endif; add_action( 'init', 'twentytwentyfour_block_styles' ); /** * Enqueue block stylesheets. */ if ( ! function_exists( 'twentytwentyfour_block_stylesheets' ) ) : /** * Enqueue custom block stylesheets * * @since Twenty Twenty-Four 1.0 * @return void */ function twentytwentyfour_block_stylesheets() { /** * The wp_enqueue_block_style() function allows us to enqueue a stylesheet * for a specific block. These will only get loaded when the block is rendered * (both in the editor and on the front end), improving performance * and reducing the amount of data requested by visitors. * * See https://make.wordpress.org/core/2021/12/15/using-multiple-stylesheets-per-block/ for more info. */ wp_enqueue_block_style( 'core/button', array( 'handle' => 'twentytwentyfour-button-style-outline', 'src' => get_parent_theme_file_uri( 'assets/css/button-outline.css' ), 'ver' => wp_get_theme( get_template() )->get( 'Version' ), 'path' => get_parent_theme_file_path( 'assets/css/button-outline.css' ), ) ); } endif; add_action( 'init', 'twentytwentyfour_block_stylesheets' ); /** * Register pattern categories. */ if ( ! function_exists( 'twentytwentyfour_pattern_categories' ) ) : /** * Register pattern categories * * @since Twenty Twenty-Four 1.0 * @return void */ function twentytwentyfour_pattern_categories() { register_block_pattern_category( 'twentytwentyfour_page', array( 'label' => _x( 'Pages', 'Block pattern category', 'twentytwentyfour' ), 'description' => __( 'A collection of full page layouts.', 'twentytwentyfour' ), ) ); } endif; add_action( 'init', 'twentytwentyfour_pattern_categories' ); Berikut ini Beberapa Contoh Desain Kaos Komunitas. Inspirasi! – My Blog

Berikut ini Beberapa Contoh Desain Kaos Komunitas. Inspirasi!

Kaos komunitas merupakan salah satu sarana untuk menunjukkan identitas dan rasa kebersamaan antar anggota komunitas. Desain kaos komunitas yang unik dan menarik dapat menjadi daya tarik tersendiri bagi anggota komunitas dan orang-orang di sekitarnya. Terlepas dari itu, ada beberapa contoh desain kaos komunitas yang bisa kita contoh sebagai inspirasi.

Untuk kamu yang memiliki komunitas dan masih bingung dan mencari cara serta inspirasi dalam membuat kaos komunitas sendiri, nggak perlu khawatir. Dalam artikel ini, Sublim Bandung akan secara lengkap membahas mengenai desain kaos komunitas, bahan-bahan yang bagus untuk membuat kaos komunitas, dan warna terbaik untuk kaos komunitas serta tips untuk membuat kaosnya. Dari pada berlama-lama lagi, yuk langsung simak aja di bawah ini!

Bahan Terbaik untuk Kaos Komunitas

Sebelum kita masuk pada contoh desain kaos komunitas, perlu diketahui bahwa ada beberapa bahan yang dianggap terbaik untuk membuat sebuah kaos komunitas. Nah berikut ini adalah beberapa contoh bahan terbaik untuk kaos komunitas. Berikut adalah beberapa contoh bahannya:

  • Katun. Katun merupakan bahan yang paling umum digunakan untuk membuat kaos. Bahan ini memiliki sifat yang lembut, nyaman, dan mudah menyerap keringat.
  • Polyester. Polyester merupakan bahan yang kuat, tahan lama, dan tahan terhadap kerutan. Namun, bahan ini tidak menyerap keringat dengan baik.
  • Spandex. Spandex merupakan bahan yang elastis dan dapat mengikuti bentuk tubuh. Bahan ini cocok untuk membuat kaos yang ketat dan nyaman dipakai untuk berolahraga.

3 Warna Terbaik untuk Kaos Komunitas

Setelah mengetahui beberapa bahan terbaik, kita akan membahas beberapa warna kaos yang memiliki filosofi tersendiri yang dapat mewakili identitas dan semangat komunitas. Beberapa warna terbaik untuk kaos komunitas antara lain:

  1. Merah. Merah merupakan warna yang melambangkan semangat, keberanian, dan kegembiraan. Menggunakan warna ini cocok untuk komunitas yang memiliki semangat tinggi dan suka berpetualang.
  2. Biru. Biru merupakan warna yang melambangkan kedamaian, ketenangan, dan kesetiaan. Warna hijau ini cocok untuk komunitas yang memiliki visi untuk menciptakan perdamaian dan harmoni.
  3. Hijau. Hijau merupakan warna yang melambangkan alam, keseimbangan, dan pertumbuhan. Bagi komunitas yang peduli terhadap lingkungan dan ingin menciptakan perubahan positif, hijau menjadi warna yang baik untuk kaos.

Contoh Desain Kaos Komunitas

Saatnya kita masuk pada beberapa contoh desain kaos komunitas. Contoh-contoh ini bisa kamu jadikan inspirasi dalam membuat desain kaos komunitas kamu sendiri. Nah berikut adalah beberapa contoh desain kaos komunitas yang unik dan menarik:

Kaos Komunitas Motor

Contoh yang pertama ada komunitas motor. Kaos komunitas motor biasanya menggunakan desain yang menggambarkan semangat kebebasan, petualangan, dan ketangguhan. Desain tersebut dapat berupa logo motor, gambar tengkorak, atau tulisan yang menggambarkan karakter pengendara motor.

Kaos Komunitas Pecinta Alam

Berikutnya ada contoh kaos untuk komunitas pecinta alam. Kaos komunitas pecinta alam biasanya menggunakan desain yang menggambarkan keindahan alam. Desain tersebut dapat berupa gambar gunung, hutan, atau hewan-hewan liar.

Kaos Komunitas Seni

Terakhir ada contoh bagi kaos komunitas seni. Kaos komunitas seni biasanya menggunakan desain yang menggambarkan kreativitas dan kebebasan berekspresi. Desain tersebut dapat berupa lukisan, grafis, atau tulisan yang unik dan menarik.

4 Tips Membuat Desain Kaos Komunitas

Setelah mendapat inspirasi dalam pembuatan desain kaos, kamu juga harus mengetahui beberapa tips dalam membuat desain kaos komunitas ini. Nah berikut ini adalah 4 tips membuat desain kaos komunitas yang untuk dan menarik. Check this out!~

1. Gunakan Identitas Komunitas

Hal pertama yang harus dilakukan adalah menentukan identitas komunitas. Identitas komunitas dapat berupa visi, misi, atau nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh komunitas tersebut.

2. Pilihlah Bahan dan Warna yang Tepat

Bahan dan warna merupakan elemen penting dalam desain kaos komunitas. Pastikan bahan dan warna yang dipilih sesuai dengan identitas komunitas dan dapat mewakili semangat komunitas tersebut.

3. Gunakan Elemen Desain yang Menarik

Sama seperti membuat desain kaos study tour, Elemen desain yang menarik dapat membuat kaos komunitas terlihat lebih unik dan menarik. Elemen desain tersebut dapat berupa logo, gambar, atau tulisan.

4. Sertakan Informasi Komunitas

Kaos komunitas juga harus menyertakan informasi komunitas, seperti nama komunitas, logo komunitas, atau website komunitas. Informasi tersebut dapat membantu orang-orang untuk mengenal komunitas tersebut.

Nah itulah bereberapa contoh desain kaos komunitas, bahan-bahan yang bagus untuk membuat kaos komunitas, dan warna terbaik yang memiliki filosofi serta beberapa tips yang bisa diikuti saat membuat kaos. Semoga artikel ini dapat memberikan informasi yang bermanfaat. Aminn!

Untuk kamu yang sedang mencari tempat untuk membuat kaos komunitas, gunakan saja jasa sablon DTF dari Sublim Bandung. Hasil pengerjaan DTF dari Sublim Bandung sudah terbukti berkualitas dan memiliki harga yang bersaing. Untuk informasi lebih lengkapnya, klik disini.